Latest Post

Kisah Inspiratif (1): Sakti eks Gitaris Sheila On 7 yang Kembali ke Fitrah


Tak terpikir sebelumnya oleh para penggemar bahwa Sakti Sheila On 7 akan sedemikian cepat berubah. Jalan hidupnya seperti berputar 180 derajat. Sebuah perputaran hidup yang mengagetkan bagi banyak orang tapi tidak bagi Sakti.

Dengan petikan gitarnya, Sakti turut membawa Sheila on 7 menjadi salah satu grup band besar di tanah air. Kini jari-jarinya tak lagi memetik chord lagu-lagu Sheila, tapi ‘chord’ ayat-ayat Allah SWT dan sunah Rasul-Nya demi masuk ke agama tauhid ini dengan utuh.

Hati wartawan Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul nama Sakti. Sedari siang wartawan Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung agak panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu tak bisa dihubungi. Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada di daerah Ujung Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah tidak ada.

“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.
Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari. Kegiatan yang dinamai khuruj itu mengharuskan pesertanya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu masjid ke masjid lain, guna berdakwah dan melatih diri dalam beribadah secara ihklas kepada Allah SWT. Sehari sebelumnya Sakti memang berada di Ujung Berung namun pada hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Mengenakan gamis putih bergaris-garis, berkopiah dan bercelana hitam, ia tampak tengah berwudhu bersama para jamaah yang lain. Dari kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak bersih. Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.

Selepas sholat Ashar, Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat, ia lalu beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal. Sesaat kemudian, pria bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap jamaah dan mulai membacakan beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain mendengarkan dengan seksama. Suara Sakti terdengar lancar sekalipun volumenya terdengar perlahan.

Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama Sheila on 7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain. Mengawali karier musik lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua album lainnya yang meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan ( 2000 ) dan Anugerah Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti bersama empat orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik tanah air waktu itu.
Di setiap sudut negeri, lagu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa saja. Kini pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah kontras karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang atraktif di setiap show Sheila.

“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut seperti memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang mengurangi kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama karena ia merasa harus lebih banyak belajar.

Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal setiap orang mengetahui apa kebutuhan Allah baginya. ” Artinya berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau apa saja, selama kita mengetahui apa kebutuhan Allah bagi kita, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa kebutuhan Allah bagi dirinya, ” ujar Sakti lagi.
Sakti memetik cahaya hidayah di kota Adisucipto, Yogyakarta, lima tahun lalu. Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.
“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.

Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian.

Rentetan peristiwa itu memmembuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.
“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.

Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh penngetahuan betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan disana.
“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.

Hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain. Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya. Sakti mengibaratkan itu seperti masuk kedalam mobil.

“Kan tidak mungkin tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.” ujar ayah Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun ) ini menegaskan.

Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa Sakti sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Menjadi bisa dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke masjid untuk berdakwah.
Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan tahun 2006 lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.

“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa disana.

Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? bagaimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.

Jalan Menuju Kekasih Allah

Hubungan karib dengan teman dan para penggemar memmembuat dua pihak inilah yang paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti sekarang. Sementara pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi kemudian bisa memaklumi. Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima buku-buku agama yang dikirim khusus untuknya.
Sampai saat ini, Sakti mengaku masih sering bersilaturahmi dengan teman-temannya di Sheila. Di milis Sheila gank milik para penggemar Sheila, nama Sakti juga masih sering disebut. Sekalipun frekuensi pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti mengaku masih saling berpaut hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis karier dari Yogyakarta itu.

“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan dengan Allah,” ujarnya.
beberapa kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua diantaranya saat konser di sebuah stasiun swasta dan konser 1000 Gitar yang diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa gitaris ternama tanah air itu antara lain Ian Antono (God Bless), Eet Sjahranie (Edane) dan Teguh (Coconut Treez) itu, turut dimeriahkan Sakti yang menjadi tamu misterius berduet dengan Erros membawakan lagu Little Wings milik Jimi Hendrix. Sakti tampil dengan menggunakan baju muslim yang sudah jadi pakaiannya sehari-hari.

Dengan seorang temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album religi yang ia harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya mengeluarkan album kali ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud ibadahnya kepada Sang Rabb.
“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan penyampaian saya tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album itu bisa jadi asbab hidayah bagi yang mendengarkan.
Lalu seberapa bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya mengucap tahmid. Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang pernah didengarnya, semakin kita mengenal makhluk semakin kita mengenal allah semakin kita tahu kesempurnaan-Nya dan siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan Allah ia akan tenang dan bahagia.
“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat”, ujarnya pasti.

Dalam hidup, menurutnya manusia mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain. Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.

“Itu kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar mengarahkan antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya. Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita, apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi kotor,” ujarnya lagi. 
Sumber: 
Hidayatullah.com
 

Dokumentasi Kegiatan TPA Baitul Munir Cikawung Rabak







 

Balasan maksiat datang secepat kilat

Pengantar dari Admin:
Kata ustadz, ada beberapa sebab kenapa rejeki tidak memihak kita atau kalaupun rejeki kita sudah banyak tetapi sering lenyap tidak berbekas. Kenapa? Kata ustadz, diantaranya adalah karena kita suka meminum-minuman keras atau suka melihat gambar/film porno atau suka zinah.
Bila kita merasa rejeki sulit maka lakukan introspeksi pada diri kita, apakah kita masih melakukan hal-hal tersebut di atas?
Di bawah ini ada sebuah renungan menarik yang saya copas dari arrahmah.com......
Oleh: Ustadz Fuad Al Hazimi
(Arrahmah.com) - Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. (QS An Nisa’ 123)
Para shahabat menyatakan bahwa inilah ayat Al Qur’an yang paling berat bagi mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa Aisyah mengatakan kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bahwa inilah ayat Al Qur’an yang terasa paling berat bagi dirinya. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 hal 558)
Balasan Allah yang secepat kilat itu dikarenakan Allah tidak rela hamba-Nya yang beriman larut dalam kemaksiatan.
Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِىَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
“Sesungguhnya Allah Maha Pencemburu, dan cemburunya Allah adalah di saat seorang mukmin melanggar yang diharamkan-Nya” (HR Bukhari) 
NASEHAT IBNU ABBAS TENTANG MAKSIAT
Shahabat Abdullah Bin Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma berkata :
“Wahai orang yang berbuat dosa, janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu. Ketahuilah bahwa akibat dari dosa yang engkau lakukan, adalah jauh lebih besar dari dosa dan maksiat itu sendiri”.
“Ketahuilah bahwa hilangnya rasa malu kepada malaikat yang menjaga di kiri kananmu saat engkau melakukan dosa dan maksiat, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat itu”.
“Sesungguhnya ketika engkau tertawa saat melakukan maksiat sedangkan engkau tidak tahu apa yang akan Allah lakukan atas kamu, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat itu”.
“Kegembiraanmu saat engkau melakukan maksiat yang menurutmu menguntungkanmu, adalah jauh lebih besar dosanya dari dosa dan maksiat itu”.
“Dan kesedihanmu saat engkau tidak bisa melakukan dosa dan maksiat yang biasanya engkau lakukan, adalah jauh lebih besar dosanya dosanya dari dosa dan maksiat itu”.
“Ketahuilah bahwa perasaan takut aib dan maksiatmu akan diketahui orang lain, sedangkan engkau tidak pernah merasa takut dengan Pandangan dan Pengawasan Allah, adalah jauh lebih besar dosanya dari aib dan maksiat itu”.
“Tahukah engkau apa dosa Nabi Ayyub sehingga Allah mengujinya dengan sakit kulit yang sangat menjijikkan selama bertahun-tahun, ditinggalkan keluarganya dan habis harta bendanya ? Ujian Allah itu hanya disebabkan karena seorang miskin yang didzalimi datang meminta bantuan kepadanya, tetapi Nabi Ayyub tidak membantunya”. 
(Suwar min Hayatis Shohabah jilid 3 hal 60 – 61)
**********
LALU BAGAIMANA JIKA MAKSIAT ITU TELAH KITA KETAHUI, KITA SADARI DAN KITA YAKINI BAHWA ITU ADALAH MAKSIAT NAMUN KITA TERUS MELAKUKANNYA ?
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS Al A’raf 23)
“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus alaihis salaam), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru (berdoa’) dalam keadaan yang sangat gelap (di dalam perut ikan Paus) : 
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”.
(samirmusa/arrahmah.com)
 

Profil TPA Baitul Munir Desa Cikawung - Rabak

(updated)

A.   Asal Nama & Tanggal Berdiri TPQ Baitul Munir

Nama TPQ Baitul Munir diambil dari nama masjid yang ada di wilayah RT 05 RW 02 Desa Cikawung yaitu Masjid Baitul Munir. Alasan mengambil nama masjid ini karena kegiatan TPQ bertempat di masjid Baitul Munir. TPQ Baitul Munir didirikan pada tanggal 11 Juli 2012.

B.    Pengurus

Susunan pengurus TPQ Baitul Munir periode 2012 - sekarang adalah sebagai berikut:
      Penasihat                             : Kyai Zaenal Abidin
      Ketua                                   : Abu Tholib
      Wakil Ketua                        : Solehan
      Sekretaris I                          : Sutomo
      Sekretaris II                         : Wahyudiarto
      Bendahara                            : Kamuli
      Bendahara II                        : Sakhur Udiarto

C.    Pengajar & Kelasnya

Nama-nama pengajar TPQ Baitul Munir adalah sebagai berikut:
1.       Ibu Eneng Sri Grantina & Ibu Juriyah
(mengajar Kelas A, yaitu santri usia PAUD dan TK (4 s.d. 6 tahun). Jumlah santri = 31 anak)

2.       Ibu Siti Maryam & Sdr. Toiffudin
(mengajar Kelas B, yaitu santri usia 7 s.d. 9 tahun. Jumlah santri = 18 anak)

3.         Sdr. Rahmat Fauzi & Sdr. Mursidin
(mengajar Kelas C, yaitu santri usia 9 s.d. 10 tahun. Jumlah santri = 17 anak)

4.         Ibu Indah Sasi Tasbiha & Sdr. Kamuli
(mengajar kelas D = santri usia di atas 10 tahun. Jumlah santri = 11 anak)

Jumlah santri keseluruhan adalah 77 anak.
* Ustadzah cadangan : Ibu Samsini

TPQ Baitul Munir mengharapkan uluran tangan para donatur demi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Untuk biaya operasional per bulan adalah Rp 1.150.000 atau setahun Rp 13.800.000. Di samping itu juga TPQ Baitul Munir akan mengadakan pakaian seragam untuk para santri yang berjumlah 77 anak. Adapun anggaran pakaian seragam per anak adalah Rp 100.000. Jadi total membutuhkan dana sebesar Rp 7.700.000.
Bagi para donatur yang akan menyisihkan sebagian rezekinya untuk kegiatan TPQ Baitul Munir, silakan hubungi para pengurus di atas (atau ke Abu Tholib HP 081334706395) atau  via email ke : tpabaitulmunir@gmail.com. Atau kunjungi grup FB di http://www.facebook.com/groups/tpabaitulmunir/
Semoga Alloh SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda atas semua kebaikan Saudara..... 
 

Info : Berita Duka


1. Bp. San Wirya (Sidun) pada hari Selasa Wage, 28 Agustus 2012 Jam 02.30.

2. Bp Dul Kholik (Darsum) Bin San Mursi pada hari Sabtu Wage, 22 September 2012 Jam 15.00 di RSU Ajibarang.


3. Ibu Wapen (istri alm Bp san Wirya/Sidun) pada hari Minggu, 14 Oktober 2012.


4. Eyang Tohirin, meninggal pd hari Selasa, 26 Februari 2013 karena sakit.

5. Ibu Romlah (Uwa Rom, adiknya pak Abu Salim), meninggal pd hari Sabtu, 13 April 2013, jam 02.00 karena sakit jantung (pd usia 71 th).

5. Sdr. Untung (putra Ibu Miat, Cikawung RT 04/02), bekas suami Sdri Nani binti Khumeri,  meninggal pd hari Rabu, 17 April 2013, jam 02.30 saat perjalanan dari Jakarta ke Cikawung. Meninggal setelah mengalami kecelakaan kerja yg berakibat gegar otak.

Semoga amal ibadah almarhum diterima oleh Alloh SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

Penayangan berita duka ini ditujukan bagi warga Rabak khususnya dan Cikawung/ Ciberung umumnya.

Silakan diinfokan apabila ada berita duka dari keluarga Anda ke 081334706395.
 

Terima kasih.

 

Pertunjukan Kesenian Rodad TPA Baitul Munir Cikawung

Para pengunjung blog TPA Baitul Munir yang dirahmati Alloh SWT....
Pada postingan kali ini admin akan menyajikan salah satu pertunjukan kesenian tradisional yang sudah berusia ratusan tahun. Meski sudah berusia ratusan tahun akan tetapi kesenian ini tidak berubah, baik dari musik maupun gerakan/tariannya. Fakta bahwa kesenian ini sama seperti yang dulu alias tidak berubah adalah keterangan saksi hidup dari sang pelatih.

Pelatih mengatakan bahwa kesenian ini sudah ada sejak dia kecil dan iringan musik serta gerakannya sama. Usia pelatih kini lebih dari 60 tahun.

Kesenian tradisional yang bernilai sejarah tinggi ini tidak lain namanya adalah RODAT atau orang biasanya menyebut RODAD.

Apa makna RODAT dan dari mana kesenian ini berasal?

Berdasarkan penelusuran di Google terdapat sebuah tulisan yang menyatakan bahwa istilah RODAT berasal dari kata rodotan atau raudatan yang berarti taman atau kebun. Sedangkan asal kesenian tradisional RODAT -masih menurut sumber tulisan tersebut- berasal dari daerah Bali, yaitu Kabupaten Badung. Dulunya, rodat merupakan salah satu pasukan perang dari Kampung Islam Kepaon, Kerajaan Badung, Bali. Nama rodat ini merupakan pemberian Cokorda Pemecutan saat membantu bertempur melawan kerajaan Mengwi dan perang Puputan Badung (ini sumbernya: http://kamikata-kamikata.blogspot.com/2012/11/tari-rodat-kepaon.html).

Meski kesenian tardisional Rodat diklaim berasal dari Bali tetapi hal ini belum ada yang melakukan klarifikasi kebenarannya. 

Berikut adalah pertunjukan kesenian RODAT yang dibawakan oleh Santri TPA Baitul Munir Desa Cikawung RT 05 RW 02, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.


Part 1


Part 2



Part 3

Part 4

Part 5

Part 6

Kami siap menghibur untuk acara-acara hajatan pernikahan, khitanan, hari-hari besar agama dan lainnya. Silakan hubungi : 081334706395 (Abu Tholib)



 

Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW TPA Baitul Munir



Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 26 Januari 2013 yang lalu, Taman Pendidikan Al Quran Baitul Munir Desa Cikawung RT 05 RW 02 Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, telah mengadakan acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara berlangsung dengan lancar, sukses dan meriah. Tentu bukan meriah dalam arti yang kurang baik melainkan meriah dalam variasi acara, yaitu menampilkan beberapa tampilan dari anak-anak TPA Baitul Munir yang lucu dan polos.

Acara peringatan Maulid Nabi SAW ini diadakan sebagai wujud kegembiraan umat Islam, khususnya warga Desa Cikawung RT 05 RW 02, atas lahirnya manusia mulia bernama Muhammad.

Acara peringatan Maulid ini menampilkan kreasi-kreasi dari para pengajar dan pengurus TPA Baitul Munir berupa gerak dan tari, bacaan asmaulhusna, bacaan ayat-ayat Al Quran pilihan, bacaan surat-surat pendek dan doa-doa harian. Acara inti adalah Hikmah Maulid yang disampaikan oleh Kyai Zaenal Abidin.

Sedangkan acara penutup diisi dengan pertunjukan kesenian Rodad oleh santriwan TPA Baitul Munir.
Semoga amal yang telah dilakukan oleh warga Desa Cikawung RT 05 RW 02 dinilai sebagai kebaikan oleh Alloh SWT......

Berikut adalah foto-foto acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.


Menyanyikan Mars TPA
 




Menyanyikan Mars TPA


 Grup Hadroh

 Anak-anak Kelas A

 Anak-anak Kelas D


 Anak-anak Kelas C (Putri)

 Anak-anak Kelas D

 Ketua Panitia Maulid (Bp Sakhur Khan...eh Sakhur Udiarso)

 Ketua TPA Baitul Munir (Bp Abu Tholib)
 
 Ketua Takmir Masjid (Bp Tasiman)

 Kyai Zaenal Abidin

 Kepala Desa Cikawung (Bp Ginting Sudiatmoko)

 Pertunjukan Rodad

 Pertunjukan Rodad

 Pertunjukan Rodad
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TPA Baitul Munir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger