Tak
terpikir sebelumnya oleh para penggemar bahwa Sakti Sheila On 7 akan sedemikian
cepat berubah. Jalan hidupnya seperti berputar 180 derajat. Sebuah perputaran
hidup yang mengagetkan bagi banyak orang tapi tidak bagi Sakti.
Dengan petikan gitarnya, Sakti turut membawa Sheila on 7 menjadi salah satu
grup band besar di tanah air. Kini jari-jarinya tak lagi memetik chord
lagu-lagu Sheila, tapi ‘chord’ ayat-ayat Allah SWT dan sunah Rasul-Nya demi
masuk ke agama tauhid ini dengan utuh.
Hati
wartawan Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul nama
Sakti. Sedari siang wartawan Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung agak
panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu tak bisa
dihubungi. Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada di daerah Ujung
Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah tidak ada.
“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami
Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.
Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah sebuah
organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari. Kegiatan yang dinamai
khuruj itu mengharuskan pesertanya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah
lain, dari satu masjid ke masjid lain, guna berdakwah dan melatih diri dalam
beribadah secara ihklas kepada Allah SWT. Sehari sebelumnya Sakti memang berada
di Ujung Berung namun pada hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang
jaraknya tidak terlalu jauh.
Mengenakan gamis putih bergaris-garis,
berkopiah dan bercelana hitam, ia tampak tengah berwudhu bersama para jamaah
yang lain. Dari kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak
bersih. Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu
menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.
Selepas sholat Ashar, Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat, ia lalu
beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal. Sesaat kemudian, pria
bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap jamaah dan mulai membacakan
beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain mendengarkan dengan seksama. Suara
Sakti terdengar lancar sekalipun volumenya terdengar perlahan.
Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama Sheila on
7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain. Mengawali karier musik
lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua album lainnya yang
meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan ( 2000 ) dan Anugerah
Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti bersama empat orang karibnya,
Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik tanah air waktu itu.
Di setiap sudut negeri, lagu-lagu Sheila
seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah
Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa
saja. Kini pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah
kontras karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi
warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang atraktif di
setiap show Sheila.
“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti
yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut seperti
memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang mengurangi
kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama karena ia merasa
harus lebih banyak belajar.
Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal setiap orang
mengetahui apa kebutuhan Allah baginya. ” Artinya berprofesi sebagai seniman,
dosen, dokter atau apa saja, selama kita mengetahui apa kebutuhan Allah bagi
kita, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat.
Seperti almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa
kebutuhan Allah bagi dirinya, ” ujar Sakti lagi.
Sakti
memetik cahaya hidayah di kota Adisucipto, Yogyakarta, lima tahun lalu. Saat
itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik
di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk ke sebuah toko buku.
Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama
Rasulullah”.
“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran
bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti
jadinya,” ujarnya mengenang.
Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya
semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah
paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang
bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga
bicara kematian.
Rentetan peristiwa itu memmembuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang
kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.
“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.
Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di
akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam
pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh penngetahuan betapa dahsyatnya
kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan disana.
“ Bila
semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan,
tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan
kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di
lautan. begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak
ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,”
ujarnya serius.
Hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai
tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain.
Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang rahmat ini,
hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya. Sakti mengibaratkan itu
seperti masuk kedalam mobil.
“Kan tidak mungkin tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.”
ujar ayah Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun )
ini menegaskan.
Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa Sakti sampai mau
melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi yang diimpikan jutaan
anak muda di Indonesia. Menjadi bisa dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau
berkeliling dari masjid ke masjid untuk berdakwah.
Keutuhan
Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia
sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi
hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan
tahun 2006 lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia
keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.
“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama
dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga dalam
diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil menceritakan
bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa disana.
Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana perasaannya
jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh dari agama Allah?
bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? bagaimana
rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan.
Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat
pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini
menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan
dakwah.
Jalan Menuju Kekasih Allah
Hubungan karib dengan teman dan para penggemar memmembuat dua pihak inilah yang
paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti sekarang. Sementara
pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi kemudian bisa memaklumi.
Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima buku-buku agama yang dikirim khusus
untuknya.
Sampai
saat ini, Sakti mengaku masih sering bersilaturahmi dengan teman-temannya di
Sheila. Di milis Sheila gank milik para penggemar Sheila, nama Sakti juga masih
sering disebut. Sekalipun frekuensi pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti
mengaku masih saling berpaut hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis
karier dari Yogyakarta itu.
“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan
dengan Allah,” ujarnya.
beberapa kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua
diantaranya saat konser di sebuah stasiun swasta dan konser 1000 Gitar yang
diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa gitaris
ternama tanah air itu antara lain Ian Antono (God Bless), Eet Sjahranie (Edane)
dan Teguh (Coconut Treez) itu, turut dimeriahkan Sakti yang menjadi tamu
misterius berduet dengan Erros membawakan lagu Little Wings milik Jimi Hendrix.
Sakti tampil dengan menggunakan baju muslim yang sudah jadi pakaiannya
sehari-hari.
Dengan seorang temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album religi yang
ia harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya mengeluarkan album kali
ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud ibadahnya kepada Sang Rabb.
“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan penyampaian saya
tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album itu bisa jadi asbab
hidayah bagi yang mendengarkan.
Lalu
seberapa bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya mengucap tahmid.
Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang pernah didengarnya, semakin
kita mengenal makhluk semakin kita mengenal allah semakin kita tahu
kesempurnaan-Nya dan siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan Allah ia akan
tenang dan bahagia.
“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu
apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin
mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua
makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar
yang paling tepat”, ujarnya pasti.
Dalam hidup, menurutnya manusia mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya
mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain.
Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada
Allah SWT, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.
“Itu kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar mengarahkan
antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya. Jika arahnya tak
benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita, apapun kegiatan kita, jika
itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka hati kita akan jernih, dan jika sudah
berpaling maka hati akan menjadi kotor,” ujarnya lagi.
Sumber:
Hidayatullah.com